Kamis, 28 Maret 2013

Vandalisme 1

Kita memimpikan kota yang bersih, indah dan nyaman baik untuk kita tinggali ataupun untuk dikunjungi karena berbagai kepentingan. Bagaimana dengan Yogyakarta? Rata-rata mereka yang berasal dari Yogyakarta ataupun mereka yang pernah tinggal di Yogyakarta sangat mencintai kota ini. Banyak sekali mereka yang datang dari kota lsin, daerah lain bahkan pulau lain enggan meninggalkan Yogyakarta , memilih tdk pulang ke daerah asalnya seusai menyelesaikan studinya di Yogyakarta misalnya.

Tentang kenyamanan memang sangat jarang ada kota setara dengan Yogyakarta. Biaya hidup yang murah, warganya yang ramah, lingkungan yang serba mudah untuk hidup, tinggal, sekolah dan beragam aktivitas. Apalagi kalau untuk sekedar kongkow, nongkrong, ngobrol berlama-lama di angkringan atau aneka kaki lima lain. Sangat representatif apa yang digambarkan KLA Project dalam masterpiece lagu Yogyakarta.

Soal 'hijau' sepertinya beberapa tahun terakhir ini juga mulai menjadi perhatian pemkot. Taman bermunculan, aneka tanaman mulai menghiasi perempatan. Tidak heran di kalangan masyarakat muncul julukan wagiman - walikota gila taman.

Tapi bagaimana dengan polusi visual yang puluhan tahun belum kunjung teratasi: vandalisme! Carilah coretan di perempatan jalan.... tentu sangat mudah ditemukan. Garasi toko, pagar rumah orang, halte, jembatan, semuanya adalah saksi bisu dan korban bisu perilaku ini. Mereka mayoritas berwujud coretan tanpa arti, 3 suku kata atau lebih, gambar tanpa estetika.

Kita tidak bisa hanya menyalahkan mereka yang berekspresi. Mungkin ketiadaan ruang berekspresi yang perlu menjadi introspeksi. Kebutuhan eksistensial remaja dan pemuda Yogyakarta mungkin kurang terpenuhi. Sehingga membuat tanda, simbol, atau jejak-jejak eksistensilah yang menjadi jalan keluar mereka. Perlukah toko cat membatasi penjualan kuas dan cat terutama cat semprot yang mudah digunskan untuk corat-coret? Tentu tidak...

Lalu apa yang mesti diperbuat untuk mengeliminir polusi visual yang ini? Inilah pertanyaan yang perlu dijawab oleh pemerintah kota, ahli psikologi perilaku, tokoh masyarakat, para pendidik dan mungkin remaja atau pemuda itu sendiri. Saya teringat contoh langkah yang pernah ditempuh kota Jakarta lebih dari 20 tahun lalu. Jakarta menyediakan monumen kosong khusus untuk corat-coret di Blok M. Efektif tidaknya saya kurang tahu adakah evaluasi yang dilakukan. Tetapi setidaknya itu perlu diapresiasi sebagai langkah nyata. Adapun fenomena di Yogyakarta, salah satu yang mencolok sebagai usaha mengatasi vandalisme ini adalah mural. Entah siapa yang berinisiatif memulainya, cukup mudah juga kita menjumpai mural- mural di jalanan. Mereka ada untuk menutupi coret-moret sebelumnya. Bila ada mural, seolah dinding berkata : please jangan coret lagi saya.. Namun tetap saja tidak sedikit di antaranya kemudian menjadi semacam vandalisme raksasa setelah mural yg tidak dominan ditambahi dengan coretan di atasnya. Di Yogyakarta seperti ada perang eksistensi antara pelaku vandalisme dan pelaku mural yang saya yakin sama-sama mencintai kotanya.

Kita selalu mencintai Yogyakarta. Dan kita merindukan Yogyskarta yang dijaga oleh segenap warganya